BARRU, SAORAJANEWS.COM – Dari meja pertemuan hingga ruang-ruang pelatihan di tengah masyarakat, upaya Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari membuka lebih banyak peluang kerja terus bergerak. Komunikasi dan lobi yang intensif dengan Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Pangkep membuahkan 22 paket pelatihan kerja berbasis kompetensi bagi masyarakat Kabupaten Barru, dengan peluang tambahan 15 paket yang kini masih dalam proses verifikasi.
Puluhan paket tersebut menjadi bagian dari tindak lanjut kerja sama antara Pemkab Barru dan BPVP Pangkep, lembaga yang berada di bawah naungan Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia. Masing-masing paket pelatihan diikuti 16 peserta, sehingga manfaat program dapat menjangkau ratusan warga.
Bupati Andi Ina tidak ingin kerja sama tersebut berhenti sebagai dokumen formal setelah penandatanganan MoU. Komitmen itu didorong untuk diterjemahkan menjadi program konkret yang dapat dirasakan langsung masyarakat, terutama dalam peningkatan keterampilan dan akses terhadap peluang kerja.
Dari komunikasi yang dilakukan Bupati Barru dengan Kepala BPVP Pangkep Ashari Arifuddin, S.T., M.M., sebanyak 22 paket pelatihan telah diperoleh. Enam paket di antaranya telah selesai dan sementara berjalan, sedangkan paket lainnya masih menunggu jadwal pelaksanaan.
Di saat yang sama, 15 paket tambahan sedang melalui proses verifikasi oleh BPVP Pangkep. Jika seluruh paket tambahan dinyatakan memenuhi hasil verifikasi dan direalisasikan, maka total peluang pelatihan yang dapat dihadirkan bagi masyarakat Barru mencapai 37 paket.
Pelatihan Disesuaikan Potensi dan Kebutuhan Pasar
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Tenaga Kerja Kabupaten Barru, Syamsir, S.IP., M.Si., menjelaskan bahwa pelatihan tersebut menggunakan metode Tailor Made Training (TMT).
Metode ini memberikan pola pelatihan kerja gratis yang dirancang secara khusus, fleksibel dan bersifat jemput bola. Jenis pelatihan maupun kurikulumnya tidak dibuat seragam, tetapi disesuaikan dengan potensi daerah, permintaan industri serta kebutuhan pasar kerja lokal.
“Pelatihannya tidak sekadar menyediakan program yang sudah ada, tetapi disesuaikan dengan potensi daerah, kebutuhan industri dan pasar kerja lokal. Jadi masyarakat dilatih berdasarkan peluang yang memang ada di daerahnya,” jelas Syamsir dalam keterangannya, Jumat (21/8/2026).
Pendekatan tersebut membuat pelatihan tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Program juga diarahkan untuk menyentuh langsung potensi ekonomi yang berkembang di desa dan kelurahan.
Desa Gattareng menjadi salah satu contoh. Wilayah yang memiliki potensi tanaman kopi tersebut mendapat pelatihan yang berkaitan dengan komoditas kopi, mulai dari roasting, keterampilan sebagai peracik kopi atau barista hingga digitalisasi marketing.
Dengan pendekatan seperti ini, kopi tidak berhenti dilihat sebagai hasil pertanian. Komoditas tersebut didorong untuk memiliki nilai tambah melalui pengolahan, penyajian, branding dan pemasaran yang lebih luas.
Jenis pelatihan lain juga disiapkan sesuai kebutuhan dan potensi peserta. Di antaranya pengelasan, tata rias, pembuatan kue dan roti, menjahit, servis motor injeksi, pengolahan sampah organik, public speaking/MC, tanaman hidroponik hingga berbagai keterampilan praktis lainnya.
Syamsir mengatakan, orientasi utama pelatihan adalah kemampuan yang dapat langsung digunakan setelah peserta menyelesaikan program. Artinya, peserta tidak hanya pulang membawa sertifikat, tetapi juga memiliki bekal untuk memasuki dunia kerja ataupun merintis usaha.
“Harapannya setelah mengikuti pelatihan, peserta tidak hanya mendapatkan sertifikat atau pengetahuan, tetapi memiliki keterampilan yang benar-benar bisa digunakan untuk bekerja atau membuka usaha sendiri,” ujarnya.
Pelaksanaan pelatihan pun dibuat sedekat mungkin dengan masyarakat. Selain memanfaatkan BLK Barru dan LPK binaan BLK Barru, sejumlah kegiatan dilaksanakan langsung di desa dan kelurahan.
Pola jemput bola ini membuat calon peserta tidak harus menempuh perjalanan jauh hanya untuk mendapatkan pelatihan. Program dibawa mendekati masyarakat sekaligus disesuaikan dengan potensi yang tersedia di wilayah masing-masing.
Bagi Pemkab Barru, pendekatan tersebut menjadi bagian dari strategi menyiapkan sumber daya manusia yang lebih terampil dan memiliki daya saing. Pelatihan vokasi sendiri menitikberatkan pada penguasaan keterampilan praktis agar seseorang lebih siap bekerja pada bidang atau profesi tertentu.
Berbeda dengan pendidikan yang lebih banyak memberikan penguatan teori, pelatihan vokasi menempatkan praktik sebagai bagian penting dalam proses pembelajaran. Peserta diarahkan untuk menguasai kemampuan yang dapat digunakan dalam situasi kerja nyata.
Di sinilah kerja sama Pemkab Barru dengan BPVP Pangkep mendapat makna yang lebih luas. MoU tidak berhenti sebagai seremoni atau dokumen administratif, tetapi terus dikawal agar menghasilkan program yang menyentuh kebutuhan masyarakat.
Bupati Barru melalui komunikasi dan koordinasi dengan pihak BPVP Pangkep terus mendorong agar semakin banyak paket pelatihan dapat diberikan kepada masyarakat. Tujuannya bukan semata memperbanyak jumlah pelatihan, melainkan memastikan keterampilan yang diberikan memiliki hubungan dengan potensi ekonomi dan peluang kerja.
Dengan 22 paket yang telah diperoleh serta 15 paket tambahan yang masih menjalani proses verifikasi, pintu peningkatan keterampilan bagi masyarakat Barru masih terbuka lebar.
Jika seluruh paket tambahan dapat direalisasikan, peluang tersebut akan semakin luas. Masyarakat tidak hanya memiliki kesempatan meningkatkan keterampilan, tetapi juga dapat memanfaatkannya untuk menciptakan usaha baru maupun memperbesar peluang terserap di dunia kerja.
"Dari lobi Bupati Barru, peluang peningkatan keterampilan dan kerja diupayakan hadir lebih dekat dengan masyarakat hingga ke desa dan kelurahan," tutup Syamsir.