MAKASSAR, SAORAJANEWS.COM – Pembangunan kesehatan di Kabupaten Barru tidak hanya membutuhkan kerja pemerintah. Di tengah berbagai tantangan pelayanan kesehatan di lapangan, Wakil Bupati Barru Abustan Andi Bintang mengajak mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Profesi Kesehatan Universitas Hasanuddin (Unhas) ikut mengambil peran dan menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat.
Ajakan itu disampaikan Abustan saat menghadiri sekaligus memberikan pembekalan kepada mahasiswa KKN Profesi Kesehatan Unhas Angkatan ke-69 di Baruga A.P. Pettarani, Kampus Unhas Tamalanrea, Makassar, Sabtu, 20 Juni 2026. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi Pemerintah Kabupaten Barru untuk menyampaikan gambaran kondisi kesehatan daerah sekaligus membuka peluang kolaborasi dengan kalangan akademisi.
Dalam pembekalan itu, Abustan memaparkan profil Kabupaten Barru, termasuk capaian dan sejumlah persoalan yang masih dihadapi sektor kesehatan. Ia menempatkan pembangunan manusia yang unggul dan inklusif sebagai salah satu perhatian penting pemerintah daerah.
Kesehatan Ibu dan Anak hingga Penanganan Stunting
Menurut Abustan, peningkatan kualitas pelayanan kesehatan dan Angka Harapan Hidup (AHH) menjadi bagian penting dalam mendorong kualitas pembangunan manusia di Barru.
Ia menyebut capaian indeks kesehatan daerah menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Umur Harapan Hidup masyarakat Barru saat ini telah mencapai 73,18 tahun. Sementara cakupan kepesertaan jaminan kesehatan melalui program Universal Health Coverage (UHC) mencapai 99,63 persen.
“Saat ini capaian indeks kesehatan Barru menunjukkan perbaikan signifikan. Umur Harapan Hidup masyarakat Barru telah mencapai 73,18 tahun, Sementara itu, cakupan kepesertaan jaminan kesehatan melalui program Universal Health Coverage (UHC) telah mencapai 99,63 persen,” ujar Abustan.
Meski capaian tersebut menjadi modal penting, pemerintah daerah masih melihat adanya pekerjaan yang harus diselesaikan. Salah satunya berkaitan dengan keterbatasan jumlah tenaga kesehatan di lapangan.
Karena itu, kehadiran mahasiswa KKN Profesi Kesehatan Unhas dinilai dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat pelayanan sekaligus memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat.
“Kolaborasi multisektor dari adik-adik mahasiswa diharapkan mengisi ruang pelayanan yang masih butuh penguatan di Barru,” tegasnya.
Ada sejumlah agenda yang diharapkan dapat dikolaborasikan mahasiswa selama menjalankan KKN. Salah satunya adalah penguatan kesehatan ibu dan anak (KIA), terutama dalam membantu meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di desa-desa.
Mahasiswa juga diharapkan terlibat dalam Gerakan Atasi Stunting berbasis Pangan Lokal (Gaspoll). Program tersebut diarahkan untuk membantu mempercepat penurunan stunting dengan pendekatan yang dekat dengan potensi pangan masyarakat setempat.
Tak kalah penting, mahasiswa diminta memperkuat edukasi mengenai pola hidup sehat. Materinya mencakup pencegahan penyakit menular maupun tidak menular, perbaikan sanitasi lingkungan, hingga mendorong orang tua lebih aktif membawa balita ke Posyandu.
Bagi Abustan, kehadiran mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu kesehatan bukan sekadar menjalankan kewajiban akademik. Ada pengetahuan dan energi yang bisa dibawa ke tengah masyarakat, terutama untuk membantu membangun kesadaran bahwa kesehatan merupakan tanggung jawab bersama.
“Kami berharap adik-adik mahasiswa bersinergi total dengan pemerintah daerah dan desa. Berikan edukasi agar masyarakat memahami kesehatan secara makro dan memperbaiki pola hidup demi Barru yang lebih sehat,” pungkasnya.
KKN Profesi Kesehatan Unhas Angkatan ke-69 sendiri melibatkan mahasiswa dari sembilan program studi atau fakultas. Mereka berasal dari Pendidikan Dokter Umum, Kedokteran Gigi, Kedokteran Hewan, Psikologi, Ilmu Gizi, Kesehatan Masyarakat, Keperawatan, Fisioterapi, dan Farmasi.
Kehadiran mahasiswa dengan latar belakang keilmuan yang beragam itu diharapkan dapat memperluas bentuk pengabdian di tengah masyarakat. Bukan hanya soal pelayanan, tetapi juga bagaimana membangun kebiasaan hidup sehat dan memperkuat keterlibatan masyarakat dalam menjaga kesehatan lingkungan serta keluarga.
Bagi Pemkab Barru, kolaborasi dengan perguruan tinggi menjadi salah satu ruang penting untuk mempertemukan pengetahuan akademik dengan kebutuhan nyata masyarakat. Di sisi lain, mahasiswa mendapat kesempatan melihat langsung persoalan kesehatan di lapangan sekaligus belajar memahami karakter masyarakat yang mereka layani.
Dengan semangat tersebut, KKN Profesi Kesehatan Unhas diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan akademik sementara. Kehadiran mahasiswa di desa-desa dapat meninggalkan pengetahuan, kebiasaan baik, dan gagasan yang terus memberi manfaat bagi masyarakat Barru.
Pada akhirnya, pembangunan kesehatan memang tidak cukup hanya mengandalkan fasilitas dan kebijakan. Ia juga membutuhkan kolaborasi, edukasi, serta keterlibatan banyak pihak—termasuk generasi muda yang datang membawa ilmu dan semangat pengabdian.